Rp 1,9 M Dana Bantuan COVID-19, Di Duga Di Korupsi

Dua kasus dugaan penyelewengan dana Alokasi Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) di Kabupaten Banyumas tengah disidik oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwokerto. Dua desa itu, yakni Desa Krajan Kecamatan Pekuncen dan Desa Tipar Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas.

Demikian diungkapkan Kepala Kejari Purwokerto, Rina Virawati dalam rilisnya, Kamis (20/7). Dia mengatakan untuk dugaan kasus korupsi di Desa Krajan ini sudah ditetapkan tiga tersangka yakni Kepala Desa dengan inisial MS, Sekdes MD dan Kasi Kesejahteraan dan Pembangunan Desa Krajan NC.

“Ketiga orang ini, diduga merugikan uang negara sebesar Rp450 juta, dengan modus operandi transaksi fiktif, dan memotong pembayaraan sejumlah proyek desa,” katanya.

Rina menjelaskan, dalam pengungkapan kasus ini pihaknya bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dalam proses penghitungan kerugian. Setelah didapatkan nilai pasti kerugian negara, maka kasus ini akan segera dilimpahkan ke Pengadilan.

Dari rumah tersebut tim juga mengamankan 38 stempel atas nama kelompok usaha, buku rekening tabungan dan satu unit komputer. “Belum ada tersangka, baru saksi semua. Setelah alat bukti cukup, kami ekspose, kami tentukan siapa yang bertanggungjawab,” Kajari Purwokerto Sunarwan, Selasa malam.

Modusnya, pelaku membuat kelompok yang diketahui kades setempat. Kemudian diajukan ke Kemenaker sehingga ada verifikasi dari pusat atas dokumen dokumen tersebut. “AM ini membuatkan semua dokumen kelompok kelompok ini, termasuk cap stempel semuanya. Tapi nanti, masih kita dalami lagi,” jelasnya.

Setelah proposal diverifikasi oleh PPK di pusat dan kemudian disetujui serta mendapatkan rekening, kelompok tersebut langsung mendapatkan uang yang ditransfer ke rekening kelompok. Karena sesuai petunjuk teknis, kelompok dibuatkan rekening oleh pusat. Namun saat uang tersebut sudah berhasil diambil, AM kemudian meminta semua uang tersebut dan dikumpulkan oleh AM.

Baca Juga »  Hakim Legendaris Artidjo Alkostar Meninggal Dunia

“Dari satu kelompok setelah ditransfer ke rekening masing-masing atas nama kelompok, kemudian kelompok ini mengambil ke BRI, kemudian di depan BRI sudah menunggu seseorang kemudian diminta semuanya. Jadi dari 48 kelompok diminta oleh AM, totalnya Rp 1,920.000.000,” ujarnya.

“48 kelompok ini dibentuk baru tetapi yang membuat satu orang ini, jadi kalau dapat saya katakan hanya digunakan untuk nama saja,” tambahnya.

Sumber (detikNews, Rabu, 10 Mar 2021)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.